Coretan Dari Bandung
Mungkin,
Tak banyak yang ku alami
Tak terlalu bermakna yang kan kuceritakan
Tapi,
Aku ingin sedikit melepas rasa hati
Kenang perjalanan hari lalu
--------------
Minggu sore, 9 April, langit belahan utara Bandung tak seelok siangnya.
Diujung sana bergumpal awan putih lusuh terlapis gradasi kelabu.
Mungkin sebentar lagi hujan.
Namun, cuaca mendung ini sepertinya tak dirasakan oleh semua anak-anak komunitas MQCC, mungkin karena terlalu membumbungnya suka cita dalam jiwa. Ada bahagia yang berlandas persahabatan.
Tentang persahabatan ini mengingatkan saya pada permainan tali rapia pada acara outbound. Ada tali rapia yang disimpul kedua ujungnya hingga membentuk lingkaran. Peserta berada dalam posisi melingkar dengan tangan merentang dan jemari saling berpegang erat. Lalu tali tersebut dimainkan dengan cara dimasukkan ke salah satu tubuh pesarta, selanjutnya dipindahkan dari satu peserta ke peserta lainnya tanpa lepas, jatuh, ataupun putus, terus tak henti mengikuti alur putaran lingkaran peserta. Lihatlah di sini, ada kondisi di mana peserta harus saling membantu memindahkan tali rapia, ada kepercayaan dan juga ada kerja sama di antara teman. Dalam persahabatan ketiga hal ini harus terikat kokoh, bersatu menjadi lingkaran yang bersirkuler kontinu.
Tepatnya setelah salat ashar, kami memutuskan untuk menikmati pesona Lembang, sekadar bersantai sambil menikmati jagung bakar hangat, bandrek, pisang keju, seraya menatap pemandangan alam nyata dengan latar sawah berundak, nyiur dan pegunungan dikejauhan, yang disertai canda tawa, sungguh menawarkan aroma yang tak mungkin bisa terlupakan. Saat itu hati saya bergumam, ”subhanallah, indahnya”.
Menjelang malam, rinai gerimis pun perlahan membasahi kaca mobil kami yang berhenti terjebak kemacetan. Kala itu aku hanya berpikir, ”jika jalanan ini lancar, tak tersendat, seperti lancarnya para peserta outbound meluncur pada rentang tali di permainan flying fox, mungkin kota Bandung bisa dijelajah dalam waktu hanya beberapa jam.”
Dari Lembang, kami meluncur ke Gasibu melalui jalan Setiabudi, Cihampelas, makan malam tujuannya. ”Kata sang guide sih, makanan di sekitar Gasibu, rasanya cukup mmuantep.” Sepanjang jalan itu terlihat begitu banyak perubahan. Beberapa gedung baru berdiri kokoh, factory outlet yang bertambah banyak semakin menyesaki sekitar jalan Cihampelas. Akhirnya, setelah beberapa jam harus bertahan dalam kemacetan tiba juga kami di Gasibu. ”Oh ya, pada saat santap malam, ada cerita lucu loh, tapi maaf, aku ga mau cerita ah, hehehe J.”
Waktu terus bergulir, malam pun kian larut, dan kembali ke penginapan adalah pilihan terbaik. Kami pilih jalan pasteur, untuk menghindari kemacetan. Ternyata sepanjang jalan pasteur pun telah terjadi perubahan, bukan hanya jalan layang yang seakan menghalangi kebebasan kita dalam menikmati sekitar jalan, tetapi juga ada supermaket yang berdiri megah. Satu perubahan yang sangat kusayangkan adalah tak ada lagi pohon-pohon rindang disepanjang jalan pasteur, dan para penjual bunga yang dulu selalu kulihat setiap kali melewati jalan tersebut pun hilang entah ke mana. Bagiku deretan penjualan bunga sama sekali tidak menganggu kondisi jalan, tetapi justeru dengan warna-warninya mampu mempercantik ruas jalan pasteur.
Tentang perubahan ini, aku hanya berfikir; perubahan memang tak dapat dibendung, perubahan pasti terjadi, bahkan harus terjadi, tetapi apakah keasrian lingkungan yang bisa menjadi ruang terbuka hijau harus menjadi korban?
Akan tetapi, bagaimana pun kondisinya sekarang, Bandung telah memberi kenangan yang tak mungkin kulupakan.
Senin pagi, 10 April, hari saatnya kami harus berbenah. Siap-siap untuk kembali ke Jakarta. Namun, sebelum pulang ada sedikit evaluasi yang acaranya dikemas cukup sederhana dan tidak formal, saling memperkanalkan diri dan berbagi kesan dan pesan. Dalam suasana seperti ini hatiku bergumam ”ternyata bukan hanya pesona Bandung yang membuat suasana menjadi begitu indah, dengan segarnya pagi yang membentangkan hamparan udara yang menyejukkan, dengan bening embun yang membasahi rerumputan di halaman, dan mentari yang segera melempar cahaya kemuning penghangat rasa, tetapi juga kebersamaan yang berlandas ketulusan serta niat baik menjadikan suasana semakin bermakna”
Jakarta, 120406, 23.00
Hatur nuhun&Wassalam
-Fatna-
Posted at 09:06 am by mqcyber
Permalink